Ahad, 12 Februari 2012

Cinta Tidak Harus Dimiliki - Kisah I

Lelaki ini adalah think tank di dalam Perang Khandaq.

Di Madinah, seorang muslimah telah mengambil hatinya…

Bukan sebagai kekasih..tetapi sebagai pilihan hati.

Pilihan menurut perasaan yang halus dan suci..pilihan untuk dinikahinya.

Tetapi Madinah adalah tempat yang asing baginya.  Madinah memiliki adat, bahasa, dan wajah-wajah yang belum begitu dikenalinya.  Pemuda itu berfikir, melamar seorang gadis tempatan tentu menjadi urusan yang pelik bagi seorang pendatang.

Mestilah perlu ada seorang yang akrab dengan tradisi di Madinah berbicara untuknya dalam khithbah…

Maka pemuda ini menyampaikan isi hatinya kepada sahabat Ansar yang dipersaudarakan kepadanya, Abu Dharda’.

“Subhanallah, walhamdulillah ..”, girang Abu Dharda’ mendengarnya.

Maka setelah dilakukan segala persiapan, beriringanlah kedua sahabat itu menuju ke sebuah rumah di penjuru kota Madinah.

Rumah seorang wanita yang solehah lagi bertaqwa.

“Saya adalah Abu Dharda’ dan ini adalah saudara saya, Salman seorang Parsi.  Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya.  Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah SAW, sehingga baginda menyebut beliau sebagai ahli baitnya.  Saya datang untuk mewakilisaudara saya ini melamar puteri anda untuk disunting”, fasih Abu Dharda’ menutur bicaranya.

“Adalah satu penghormatan bagi kami menerima anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia.  Dan adalah penghormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama.  Akan tetapi hak menerima ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami”.  Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan penuh debaran.

“Maafkan kami kerana terpaksa berterus terang”, kata suara lembut itu.  Ternyata sang ibu yang berbicara mewakili puterinya.  “Tetapi kerana anda berdua yang datang, maka dengan mengharap redha Allah saya menjawab bahawa puteri kami menolak pinangan Salman.  Namun jika Abu Dharda’ juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menerima pinangan itu.”

Jelas sekali.  Sikap terus terang yang begitu mengejutkan, ironi dan indah! Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya!

Ya, memang mengejutkan dan ironi.  Apa yang indahnya?? Yang indahnya adalah reaksi Salman.  Bayagkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat di dalam hati.

“Allahu Akbar!!” seru Salman.  “Semua mahar dan nafkah yang telah ku sediakan akan aku serahkan kepada Abu Dharda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Cinta memang tak harus memiliki…

0 bisikan:

Catat Ulasan

Buka Cbox
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis

Video Terbaru AwaNiBiRu

Video AwaNiBiRu Yang Lain?

Loading...